Selasa, 21 Februari 2017

Negeriku

Pesona negeriku Indonesia, negara dengan ragam kekeyaan suku, budaya dan sumber daya alam. Sebuah negeri dengan ribuan pulau tersebar membentang sejara khatulistiwa. Berada diantara dua benua dan dua lautan luas. Bertengger di jalur strategis pelayaran dan penerbangan dunia. Ragam fauna dan flora menghiasi indahnya negeri ini. Negeri yang tak terlalu besar dengan jumlah penduduk terbesar ke-empat dunia. 

Senin, 30 Januari 2017

SAHABAT MALAM

Malam sejuk saat hujan mengguyur Kota Pahlawan dijam 20.00 WIB pada tanggal 9 Januari 2017. Bagai seorang muda yang buyar rencana karena hujan, akhirnya aku memutuskan untuk menonton serial Anime One Piece yang dimulai dengan episode 266. Setelah menghabiskan dua episode, terdengar bunyi ketukan pintu dan panggilan salam. Saya pikir dia adalah teman satu kamar yang datang tiba-tiba dan siap menceritakan dunia asmaranya hingga saya sumpek di kamar. Dengan menghela nafas saya melangkahkan kaki menuju pintu. Saya buka pelan-pelan pintu tersebut dan terkejutlah saya. Berdirilah seorang laki-lak yang tak asing wajahnya. Dia adalah Andre, teman dalam khayalku.
“Hai, udah lama tak jumpa. Masih punya kabarkah ?”, Andre memulai pembicaraan.
“Masih kok, sama seperti yang kamu lihat. Dari mana gerangan tiba-tiba muncul dihadapan ?”
“Dari luar kota kok. Tapi kotanya sangat jauh, dari saking jauhnya sampai melewati batas negara.”
“He…… ?, kok bias”
“Ya, kan kotanya terletak di Jerman. Hahahahahaha,”
“Arrrrghhh?%!,” Sambil menghela nafas aku lanjutkan pembicaraan kita, “Ngomong-ngomong kamu gak mau masuk ya?”.
“Oh iya, yaudah aku masuk”..
            Andre merupakan teman saya sejak kecil. Kami berpisah sejak SMP dikarenakan keluarga Andre pindah rumah ke Sulawesi. Saya selalu berkomunikasi dengan Andre melalui sms, telephone dan social media seperti Facebook dkk. Saat ini, Andre mulai meniti karirnya sebagai seorang penulis novel dan pengusaha. Karir sebagai penulis dia mulai sejak dibangku kuliah semester pertama. Sudah empat novel dia terbitkan, dengan royalti yang cukup melimpah sehingga dia mampu meng-umrohkan kedua orang tuanya. Selain itu, renovasi rumah orang tua. membeli rumah untuk dirinya sendiri dan membiayai kuliah adik perempuannya juga mampu dia lakukan.
“Dre, ada urusan apa di Surabaya ?”
“Besok aku ada launching buku kelima ku di salah satu toko buku disini.”
( kaget ) “Buku ke lima ?,”
“Iya buku ke-lima, kamu kok terheran-heran kayak gitu.”
“Lah itu, launching-nya terbuka untuk umum, tertutup atau gimana ?”
“Terbuka tapi harus beli tiket, soalnya dalam rangka kegiatan social.”
“Terus aku gimana cara masuknya ? kan belum beli tiket.”
“Aku kesini itu, maksudnya mau nagajakin kamu besok untuk ikut aku ke acara itu.”
“Oalah… ngomong toh… dari tadi.”
“Kan aku belum sempat bicara, setelah kamu biarin aku berdiri didepan pintu.”
“hehehehehe, maaf…”
            Sebagai seorang yang sudah lama tidak bertemu secara langsung, kami lanjutkan pembicaraan tentang banyak kisah perjalanan hidup masing-masing. Sampailah saya kepada sebuah cerita bagaimana Andre memilih jalan hidupnya sebagai seorang novelis. Padahal sejak kecil dia memiliki cita-cita menjadi seorang dokter. Sampai pada perpisahaan kami, dia tetap mengatakan bahwa dokter adalah mimpi yang akan selalu dia kejar.
            Andre bukan orang yang terlahir dari keluarga yang berkecukupan. Ayahnya adalah seorang tukang jahit dan ibunya hanya seorang penjual kue pasar. Dia hidup didalam keluarga rantau yang ingin memperbaiki kualitas ekonomi di tanah orang. Selain itu, dia tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana bersama ayah, ibu dan adik perempuannya. Andre merupakan anak yang riang dan tegar selalu tegar dengan kondisi ekonomi orang tuanya yang pas-pasan. Selain itu, dia juga rajin membaca buku cerita dan suka menceritakan kembali apa yang dia baca.
            Perpisahan kami dimulai pada saat kenaikan kelas 9 SMP. Ayah Andre harus kembali ke tanah kelahirannya, karena ibunya sedang sakit. Selang beberapa satu bulan dari kepindahan Andre ke Sulawesi, aku mendapat kabar bahwa neneknya meninggal. Setelah itu, tiga bulan kemudian Ayahnya yang meninggal. Sungguh malang nasib Andre. Sebagai teman yang sudah kenal dia cukup lama, saya tahu bahwa Andre adalah orang yang kuat. Dia kuat dan bahkan tahu apa yang harus dia lakukan.
            Kematian sang Ayah menjadi masa dimana angan menjadi dokter harus dia kubur dalam-dalam. Ya, karena pada saat itu masih belum ada program beasiswa bidik misi. Dan informasi program beasiswa pendidikan dokterpun tak kunjung mengahmpiri telinganya. Kini yang ada dibenak dia hanyalah sebuah angan untuk memperbaiki perekonomian keluarga dan pendidikan adik perempuannya. Sehingga sejak saat itu, untuk membantu kebutuhan keluarga dia harus bekerja paruh waktu sebagai pelayan rumah makan setiap pulang sekolah. Rutinitas harian itulah yang dia kerjakan.
            Hari-hari berlalu sampailah saat dimana kelulusan SMA hampir tiba. Hari yang sangat berat bagi Andre ketika dia tidak lagi memiliki rencana apapun untuk mengahadapi kelulusan SMA. Kuliah, kerja, atau membuka usaha baru tidak pernah ada dibenaknya. Selama ini, Andre hanya memikirkan bagaimana cara dia memperbaiki ekonomi keluarga. Bagaimana cara dia dan keluarga bertahan hidup ditengah kerasnya tantangan zaman. Hingga sampailah saat, ketika formulir pendaftaran perguruan tinggi berada dihadapannya. Dengan perasaan kebingunan, akhirnya dia memutuskan untuk menghubungi saya via telephone.
“Halo, Assalamu’alaikum !” jawabku di telephone Andre.
“Wa’alaikumsalam, bukannya aku yang harus bilang Assalamu’alaikum ?”
“Oh iya juga sih Dre, yaudah ulangi kalua gitu.”
“Ok, Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam, ada apanih gerangan tiba-tiba telpon malam-malam gini ?”
“Aku lagi ada masalah Dik, bisakah kamu bantu aku ?”
“Lah kalau ada masalah jangan ke aku.”
“Nah, terus kemana ?”
“Ke Pegadaian, karena motonya mengatasi masalah tanpa masalah. Hahahahaha” gelak tawa saya berharap mencairkan suasana.
“Ah kamu itu bias aja, gak berubah-berubah ya. Serius nih…”
“Ada masalah apa kok serius banget ?”
“Nih loh, aku mau lulus SMA tapi bingun mau masuk mana ?”
“Ya kedokteran lah, kan itu cita-citamu sejak didalam kandungan.”
“Hah.. ? Dalam kandungan ? Ayolah jangan bercanda.”
“Ya ini loh, udah masuk mode serius. Ada apa dengan kedokteran ?”
“Biayanya loh, mahal.”
“Ya Ampun…. Andre… Kan ada beasiswa Bidikmisi.”
“Emang bisa, kedokteran masih didanai ?”
“Itu program buat semua jurusan, Andre….”
“Oh gitu, ya dik… Aku baru tahu.”
“Kok kamu agak berubah ?”
“Berubah gimana ? tambah tinggi, lebar atau gantengkah ?”
“Arggghhhh%!%*$, Bukan yang itu.”
“Yang mana ?”
“Kamukan dulu koran berjalan, kok sekarang malah gak dapat info bidikmis dengan baik dan benar.”
“Hehehehe, maklum pasca meninggal Ayah. Aku udah tutup perusahaan korannya.”
“Oalah, gitu tah ?”
“Yaps, yaudah Dik. Aku mau tidur dulu. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Keputusan sudah bulat jurusan kedokteran di kampus berlabel negara ini, dia ambil sebagai pilihan pertama. Sedangkan pilihan kedua adalah jurusan kedokteran di tanah sultan pada borang SNMPTN. Sungguh pilihan yang aneh, padahal dalam borang tersebut, kita dapat memilih dua perguruan tinggi dan masing-masing perguruan tinggi dapat memilih dua jurusan. Apa mau dikata, semua adalah pilihan dan Andre yang memilih. Kita hanya bisa kebingungan, tapi tak bisa protes.
Detik-detik penantianpun telah tiba. Ketika berita sedih tidak diterima masuk perguruan tinggi melalui jalur SNMPTN mengnyapa saya. Tapi, rasa sedih itu agak memudar ketika nada sms berdering dihandphone saya. Ya sms dari sahabat kecil saya, Andre.
“Dika, terimakasih atas saran yang telah engkau berikan. Sebentar lagi jaket kuning dengan jurusan kedokteran saya kenakan. Bagaimana denganmu sahabat ?” tulis Andre dalam smsnya.
“Wah selamat ya sahabat. Aku masih harus berusaha lagi untuk meraihnya.” balas smsku ke Andre.
Semester pertama kuliah, Andre kembali kepada pemikiran lamanya. Bagaimana memperbaiki ekonomi keluarga. Kuliah kedoteran yang cukup lama bagi dia, menghabiskan rasa sabarnya untuk menunggu perbaikan ekonomi keluarga. Bukanlah waktu yang singkat bagi seorang Andre untuk mendapat gelar dokter, dengan harapannya yang tinggi dan ingin disegerakan. Akhirnya dia memulai untuk mencari kerja paruh waktu. Akan tetapi, kerja kerja paruh waktupun tidak kunjung dia dapatkan. Maklumlah sebagai seorang perantau yang buta akan daerah rantauannya, sangat sulit untuk mencari pekerjaan.
Hari demi hari, Andre mulai gelisah. Kuliah yang seharusnya dia jalani dengan penuh keseriusan, dijalaninya bagaikan debu yang terhempas angin tanpa arah. Andre sering bolos kuliah, walaupun keberadaannya mudah ditemukan di Perpustakaan kampus. Akan tetapi, tak nampak di kelas kuliah. Sampai suatu ketika, disaat dia tertidur di Perpustakaan. Ada seorang dosen dari Fakultas Sastra yang menghampirinya.
“Hai mas, lagi ngapain ?”, sapa sang dosen.
“Lagi baca buku, tapi ketiduran pak.”
“Memang hobi baca ?”
“Iya memang saya suka baca, tapi kalau dibilang hobi juga tidak pak.”
“Oh…. dari jurusan apa mas ? kok sering disini, emang gak kuliah.”
“Dari jurusan kedokteran pak, saya lagi bolos pak.”
“Emm… Sering bolos ya ? Kok saya sering melihat kamu disini.”
“Iya, soalnya lagi ada masalah pak.”
“Boleh saya mendengarkan masalahmu, siapa tahu saya bisa bantu.”
Dengan agak ragu akhirnya Andre menceritakan seluruh masalah yang sedang dia hadapi kepada dosen tersebut. Dengan penuh keseriusan sang dosen mendengarkan cerita Andre. Dari saking harunya cerita tersebut, sang dosen tak mampu membendung air matanya. Sungguh mengharukan perjalanan hidup seorang Andre. Disela mendengarkan cerita Andre, sang dosen melirik laptop kusam Andre dan memperhatikan tulisan di laptop tersebut. Sesekali beliau membaca apa isi tulisan tersebut. Akhirnya sang dosen mulai bertanya kepada Andre.
            “Mas Andre, apakah kamu serius dengan ambisi itu .”
“Ya, Pak saya serius dengan ambisi ini ?”
“Apakah dilaptop itu tulisanmu ?”
“Ya Pak, ada apa dengan tulisan itu?”
“Kalau boleh tahu itu tulisan apa ?”
“Itu sebuah tulisan sederhana yang saya tulis untuk menguarangi kegelisahan saya.”
“Sudah berapa banyak tulisan yang kamu buat ?”
“Sekitar seratus lebih pak ?”
“Kenapa pak ?”
“Sejak kapan kamu menulis itu ?”
“Sejak SMA kelas 12, ketika saya menunggu waktu pengumuman SNMPTN pak. Bapak belum jawab pertanyaan saya.”
“Boleh saya baca, sebagian tulisanmu ?”
“Boleh pak silahkan.” (sambil memberikan laptopnya kepada sang dosen)
Andre mulai kebingunan dengan tingkah sang dosen. Akan tetapi dia hanya diam karena takut kepada dosen tersebut. Dia tidak berani bertanya apa yang sedang dilakukan dosen tersebt dan apa maksudnya. Sedangkan sang dosen sangat khusuk dengan apa yang dia baca, sambil sesekali mengeleng-gelengkan kepala. Sesaat tampak senyuman dari raut wajah sang dosen. Sesaat kemudian air mata mengucur perlahan-lahan dari sudut mata beliau. Entah apa yang membuat beliau menangis.
Andre tampak kebingungan dengan apa yang terjadi terhadap dosen tersebut. Orang-orang disekitar Andre yang melihat kejadian tersebut juga kebingungan. Hal ini dikarenakan, dosen tersebut adalah seorang guru besar yang sangat terkenal di Fakultas Sastra di kampus tersebut. Selain seorang guru besar, dosen tersebut juga terkenal sangat kritis terhadap sebuah karya sastra. Tidak ada mahasiswa beliau yang mampu memikat hatinya untuk memberikan nilai yang cukup tinggi terhadap hasil tugasnya.
Setelah hampir dua jam, sang dosen memulia pembicaraan, “Kamu tahu gak mas, bahwa kamu sudah punya bekal untuk ambisimu itu.”
“Bekal bagaimana pak ?”
“Bekal untuk memperbaiki ekonomi keluargamu dan bekal untuk membiayai adikmu. Itukan ambisimu ?”
“Iya pak, tapi bagaimana caranya ? Lulus dari kedoteran saja butuh waktu sekitar enam tahun. Itu waktu yang lama bagi saya untuk mewujudkan ambisi itu.”
Dengan tersenyum dosen tersebut menghela nafas dan kembali memulia pembicaraannya, “Saya akan kasih tahu kamu, tapi ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi. Apakah sanggup dengan syarat-syarat tersebut.?”
“Apa saja syaratnya pak ?”
“Sanggup atau tidak, jawablah terlebih dahulu.”
“Jika itu memang untuk kebaikan saya dan ambisi saya, saya sanggup.”
“Baik kalau seperti itu, syarat pertama kamu harus rajin kuliah lagi. Syarat kedua temui saya setiap jam 12.30 sampai 14.00 disini.”
“Untuk syarat kedua, jika saya ada kuliah bagaimana pak ?”
Sambil menodorkan kertas sang dosen menjawab, “Baik seperti ini, ini jadwal saya dalam satu minggu di kampus ini. Piilih dua jam setiap hari dimana waktu tersebut adalah waktu yang kamu janjikan ke saya untuk bertemu. Bagaimana setuju ?”
“Bolehkah saya diberi waktu untuk memikrikan tawaran bapak ?”
“Apakah kamu harus berpikir panjang, ketika kesempatan sudah didepan mata ?”
“Baik saya terima pak ?”, sahut Andre sambil mengambil kertas jadwal dosen tersebut. Sembari mengatur jadwal untuk bertemu dosen tersebut, Andre bertanya kepada sang dosen, “ Pak pertanyaan saya belum bapak jawab. Apa bekal tersebut ?”
“Apakah sudah kamu atur jadwalnya ?”
“Iya sudah, ini pak jadwalnya.” sahut Andre sambil menyodorkan kertas jadwalnya.
“Baik temui saya besok disini, dengan membawa seluruh tulisan kegelisahanmu. Dalam bentuk hardcopy, ini biaya cetaknya.”
“Terus jawaban dari pertanyaan saya ?”
“Akan saya jawab besok. Jangan lupa, mulai besok dua syarat tadi harus kamu kerjakan.”
“Baik pak, terimakasih.”
“Selamat siang.”
“Siang pak..”
            Bukan bahagia yang didapat oleh Andre pasca bertemu dengan dosen tersebut diperpustakaan. Kebingungan dan kegelisahan semakin bertambah dibenak Andre. Hal tersebut dikarenakan Andre menyanggupi sebuah kesepakatan, yang dia sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya akan dosen itu perbuat kepadanya. Dengan wajah gelisah dia berjalan ke sebuah warung internet untuk mencetak tulisan yang sudah dia buat. Sambil menunggu tulisan tersebut selesai dicetak, Andre menelphoneku.
“Halo ada apa Andre ?” sahutku melalui telephone.
“Dik, aku mau menceritakan sesuatu kepadamu. Kamu sibuk gak ?”
“Gak kok, ini baru rebahan di kamar kost.“
“Aku tadi ketemu dengan seorang dosen di Pepustakaan. Dia menanyakan aku kok gak masuk kuliah. Ya aku jawab seperti biasa.
“Emm… dosen itu kemudian menghukum kamu ya.. soalnya kamu sering bolos. Hahahaha.”
“Ya gaklah, emang kamu.”
“Ya terus kenapa ?”
“Kemudian dia lihat tulisanku, dan dia bilang kalau aku punya bekal buat mewujudkan ambisiku.”
“Lah maslahnya dimana ?”
“Masalahnya terletak disyarat yang dia berikan kepadaku tanpa aku tahu beliau mau ngapain ?”
“Terus kamu menyanggupinya ?”
“Iya, terus gimana ini ?”
“Untung kamu menyanggupinya, selamat ya…”
“Kok gitu ?”
“Pokoknya selamat, lihat aja besok. Aku tutup telphonenya, Assalamu’alaikum…” sambil menutup telphonenya.
“Tunggu dik, yah dimatikan. Apasih nih maksudnya orang.”
Mentari telah selesai dengan sift jaganya, saatnya rembulan bertugas untuk menamani hamba Tuhan merangkai kisah indah dimalam hari. Akan tetapi, bukan rangkaian kisah indah dimalam itu bagi Andre. Rajutan kisah kebingungan ditengah malam yang mencekam, memberikan nilai seni yang berbeda. Sambil menyandarkan punggung pada dinding kamar kost, Andre berfikir keras. Apa yang akan terjadi esok ? Jam menunjukkan pukul 23:00, akhirnya Andre memutuskan untuk melihat jadwal kuliah dan mengerjakan tugas kuliah untuk dikumpulkan esok hari. Walaupun Andre sering bolos kuliah, dia tidak pernah lalai mengerjakan tugas kuliahnya. Sambil mengerjakan tugas kuliahnya, Andre tetap dalam kondisi kebingungan. Rasa bingung yang menghantuinya, membuat Andre tidak dapat berkonsentrasi dengan penuh hingga waktu menunjukkan pukul 04:15 dan adzan subuh mulai berkumandang.
Dengan rasa bingung yang belum mampu dia pecahkan. Andre mulai melangkahkan kakinya menuju tempat kuliah. Setibanya didalam kelas Andre hanya dapat duduk termenung. Tak peduli siapa yang didepannya. Bahkan teman yang duduk disampinyapun tidak dia pedulikan. Keanehan yang terjadi pada Andre menyita perahtian teman disampinya, Shinta.

-- BERSAMBUNG --

Rabu, 25 Januari 2017

DIA DAN CERIT[R]A MALAM

Sore kelam akan hujan lebat yang tiada henti menambah kesempurnaan hari yang suram tanpa indahnya mentari terbenam. Dikala mentari sedang terbenam, Fera menatap jendela kamar kost. Seraya berharap si hujan yang kian lebat berhenti seketika tuk memulai aktivitas tertunda di luar sana. Akan tetapi, semesta tak kunjung memberikan restu kepadanya. Terdengarlah suara merdu pertanda panggilan untuk menghadap Sang Maha Kuasa tiba. Dilangkahkanlah kaki menuju kamar mandi untuk mensucikan diri. Ditengah langkah kakinya dia berharap Tuhan memberikan anugerah-Nya untuk semesta berpihak kepadanya. 

Setelah mensucikan diri, Fera menggelar sajadah guna menghadap Yang Maha Pemurah. Dalam rangkaian ibadahnya, terbesit harap dalam hati sebuah do'a penuh harap.

"Ya Rabb... saat ini hamba berharap dengan penuh sangat atas kuasa-Mu yang telah menurunkan anugerah dari langit berupa hujan. Akan tetapi, pada saat ini juga hamba ingin melakukan sebuah aktivitas yang insya-Allah masih dalam jalanMu. Ya Rabb... berilah hamba kesempatan untuk melakukan aktivitas tersebut sebagaimana Engkau, memberikan kesempatan itu, kepada hambaMu yang lain."

Dengan mengusapkan tangan kewajahnya sebagai tanda akhir dari ibadah yang dia lakukan, terdengar suara ketukan pintu dan pangilan salam.

"Assalamu'alaikum, Fera dikamar ?" sahut seseorang dari luar kamar.
"Wa'alaikum salam.., ya sebentar." sahut Fera sambil berjalan untuk membuka pintu.
"Bu Kost, ada apa bu ?"
"Ada tamu di ruang tunggu."

Sambil penuh pertanyaan Fera langkahkan kakinya menuju ruang tamu. Dengan wajah terkejut dan bahagia, tampat seorang pria sedang duduk di ruang tamu. Pria dengan wajah yang tak asing baginya. Dialah Andre, editor naskah novel yang sedang dia garap.

"Assalamu'alaikum... Hai Fera !"
"Wa'alaikumsalam... Loh mas Andre ! Kok kesini, bukannya Fera yang harus ke tempat mas." jawab Fera dengan herannya.
"Ya kebetulan saya ada keperluan dekat sini, kemudian saya ingat kalau kita ada janji ketemu dikantor." 
"Jadi saya putuskan saja ke kostmu, ketimbang kamu kehujanan." lanjutnya.

Akhirnya penantian Fera pada hari itu terjawab. Do'a yang dia panjatkan kepada Maha Pemurah agar dapat memenuhi janjinya bertemu dengan editor bisa terpenuhi. 


Dia - Fera
Seorang mahasiswi semester 5 jurusan Teknik Lingkungan disalah satu perguruan tinggi negeri Surabaya. Fera juga aktif diorganisasi sosial yaitu Sanggar Anak Nusantara. Organisasi tersebut bergerak dalam bidang pendidikan anak jalanan. Dalam organisasi ini, posisi Fera sebagai tutor matematika.  Selain itu, Fera suka menulis novel. Sudah lima novel yang telah dia terbitkan sejak dibangku SMA. Saat ini, Fera sibuk sebagai Founder dalam Gerakan Pena Nusantara.


Dibalik hujan dan do'a
Hari yang seharusnya indah lenyap seketika oleh hujan yang tak kunjung berhenti. Janji yang harus dia penuhi dengan seorang editor dimalamnya untuk sebuah novel yang harus terbit tiga bulan mendatang, nyaris tidak tak terpenuhi. Dengan ketulusan do'a yang dia panjatkan kepada Maha Pemuruah. Akhirnya janji yang seharusnya dia penuhi di kantor penerbit, dapat diselesaikan dengan hadirnya Andre kerumahnya.

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin :60)



Senin, 16 Januari 2017

THE COLORS OF LIFE

Jika warna adalah perumpaan dari hidup, maka hitam adalah bagian dari hidup itu sendiri. Manusia tidak dapat hanya putih sebagai pilihan atau merah sebagai kesukaan. Semua warna harus dilalui baik itu suka ataupun tidak. Akan tetapi orang genius yang bijak mampu melalui semua warna dengan hanya melihat tanpa merasakan pedihnya warna itu.